
Nokia Research Centre yang bermarkas di Cambridge, Inggris sedang mengembangkan sebuah sistem baru yang akan membuat charger seperti barang dari abad pertengahan. Sistem yang nantinya akan ditanam di produk-produk Nokia ini akan menyerap energi dari gelombang yang dipancarkan oleh antena TV, pemancar wi-fi, dan lain sebagainya. Terdengar tidak mungkin? Jangan salah. Pernahkah Anda melihat sepasang alat yang dipasang di pintu masuk toko yang akan berbunyi jika Anda melewatinya saat membawa keluar barang dengan tag yang belum dilepas? Ada gelombang radio yang ditangkap alat itu dari tag tersebut. Konsep seperti itulah yang kini sedang dikembangkan Nokia.
Ide transfer energi semacam ini muncul pertama kalinya saat Nikola Tesla pada tahun 1893 ingin membuat sebuah menara transmisi untuk mengirim energi tanpa media apapun melintasi Samudra Atlantis. Yang satu ini kedengaran tidak mungkin jika melihat eranya. Walaupun begitu, Tesla telah menginspirasi Nokia untuk mendesain sebuah antena dan dua buah sirkuit receiver di dalam prototypenya untuk bisa mengubah energi elektromagnetik menjadi energi listrik.
Sampai saat ini, prototype dari Nokia baru bisa menyerap 5 miliwatt, masih jauh dari targetnya yaitu sebesar 50 miliwatt. Sebagai perbandingan, 20 miliwatt sudah cukup untuk bisa menjaganya tetap hidup di stand by mode tanpa perlu charger lagi. Tapi apa 50 miliwatt cukup untuk browsing dengan 3G, memutar file musik mp3, atau bermain game? Satu hal yang sedang menjadi pusat perhatian Nokia adalah bagaimana membuat sistem ini menggunakan tenaga yang lebih kecil daripada tenaga yang diserap.
Melihat perkembangannya, Nokia cukup optimis tentang penemuannya yang satu ini. Tapi bagaimanapun juga, konsep wireless charging saat ini belum bisa dijadikan sebagai sumber energi utama sebuah ponsel. Perlu ada sumber energi lain, seperti panel surya misalnya, untuk menyokong kebutuhan suplai energi yang cukup.





